
Permintaan Zelenskyy soal Facebook Blokir Rusia Ditolak Meta
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta Meta, induk platform Facebook dan Instagram buat memblokir layanan Facebook pada Rusia.
Meta berkata Februari kemudian akan membatasi outlet media pemerintah Rusia di Ukraina. Langkah itu disebut sebagai respons atas permintaan eksklusif presiden Ukraina.
Dalam surat yg ditulis Zelenskyy kepada CEO Meta Mark Zuckerberg serta COO Sheryl Sandberg, Zelenskyy meminta Meta setop organisasi isu pemerintah Rusia memposting pada Facebook. Zelenskyy jua meminta Meta memberhentikan Facebook dan Instagram berasal Rusia, tetapi permintaan itu ditolak Meta.
Zuckerberg atau Sandberg tidak merespons permintaan Presiden Ukraina itu. tetapi Wapres Meta buat urusan dunia, Nick Clegg sudah merogoh alih kebijakan terkait dilema tadi.
Clegg terus memberi pembaruan berita pada Zelenskyy, ihwal upaya Meta membantu Ukraina pada perseteruan dengan negara Beruang Merah.
Baca Juga : Aplikasi Youtube Tanpa Iklan Dihapus Usai Dipaksa Google
Rusia terus menginvasi Ukraina semenjak akhir Februari. dampak dari serangan itu, sejumlah perusahaan teknologi membatasi operasinya di Rusia.
Perusahaan media umum mirip Facebook serta Twitter dihadapkan pada penanganan keputusan moderasi konten yg menantang seputar insiden tabrakan antar 2 negara.
Facebook mulai mempelajari pos-pos media pemerintah Rusia. dari Politico, beberapa media Rusia sudah memposting cerita pada Facebook serta Twitter berisi klaim palsu pasukan militer Ukraina yg melancarkan agresi tanpa alasan terhadap pasukan sekutu Rusia.
Facebook jua sudah memblokir outlet media yg didukung pemerintah Rusia berasal platform periklanannya, mirip halnya YouTube Google.
Facebook serta YouTube saat ini diketahui tengah gencar menghapus file audio dan video yang bertebaran pada platform mereka, menyangkut viralnya video Zelenskyy yg mengumumkan menyerah ke Rusia.
Penghapusan jua dilakukan di video yg telah diunggah sejumlah netizen. Video itu belakangan viral serta menghasilkan kebingungan di tengah warga dunia, dikutip CNN.



