Mengapa Seseorang Selalu Bersikap Baik
1. Respon Otak
Ternyata, ketika seseorang menolong melakukan perilaku altruisme, otak kemudian akan memberikan respon yang membuat seseorang merasa bahagia, karena perilaku ini sangat mempengaruhi afeksi kita. Karenanya area otak yang aktif ketika menolong orang lain adalah korteks dan amigdala prefrontal. Area otak ini kemudian akan bertanggung jawab dalam mengatur emosi yang dimiliki oleh seseorang. Ketika seseorang akhirnya melakukan perilaku altruisme maka bagian otak ini akan memunculkan perasaan euforia atau disebut juga helper’s high dan mengaktifkan pusat reward di otak. Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli neurobiologi yang menemukan bahwa ketika seseorang berperilaku altruisme seseorang kemudian membuat pusat kesenangan di otak menjadi aktif. Respon otak ini kemudian akan membawa perasaan candu terhadap seseorang.
2. Lingkungan
Sebuah studi yang dilakukan di sebuah universitas ternama, yaitu Stanford University menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan dengan orang lain kemudian memiliki pengaruh besar pada perilaku altruisme. Ternyata hal ini kemudian menjadi sesuatu yang telah banyak diperdebatkan oleh para peneliti khususnya psikolog, mereka kemudian mempertanyakan apakah seseorang dapat terlahir dengan kecenderungan dalam menolong orang lain, namun sebuah studi kemudian menemukan bahwa lingkungan sosial kemudian memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku altruisme pada anak-anak. Anak-anak kemudian akan mengamati menolong dan tidak menirunya. Meniru perilaku altruisme dapat mendorong melakukan hal serupa terlebih pada anak-anak yang memang mudah sekali meniru perilaku orang lain.
3. Norma Sosial
Salah satu hal penting yang juga dapat mempengaruhi munculnya perilaku altruisme pada seseorang adalah norma, aturan, dan ekspektasi masyarakat sekitar. Manusia kemudian akan cenderung merasa merasa tak enak, atau merasa “harus” membantu orang lain jika orang tersebut telah melakukan sesuatu untuknya, hal ini merupakan contoh dari norma timbal balik. Perasaan ini kemudian dapat memunculkan keinginan untuk menolong orang lain. Namun perlu disadari bahwa sikap altruisme juga sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu sebagai timbal balik.
4. Imbalan secara Kognitif
Sebelumnya telah disebutkan bahwa perilaku altruisme merupakan perilaku menolong orang lain tanpa imbalan atau tanpa mengharap timbal balik apapun. Namun terdapat imbalan secara kognitif. Imbalan ini dapat berupa pandangan kita terhadap diri kita sendiri setelah membantu orang lain. Kita akan memandang diri kita sebagai orang berempati, baik dan tentunya hal ini akan memberikan perasaan yang nyaman dan diri kita sendiri. Imbalan ini pun dengan respon otak yang muncul ketika kita menolong orang lain.
Orang biasanya juga cenderung lebih terlibat dalam perilaku altruistik ketika mereka merasakan empati terhadap orang yang mengalami kesusahan, sebuah sugesti yang dikenal sebagai hipotesis empati-altruisme. Anak-anak juga cenderung menjadi lebih altruistik saat rasa empati mereka berkembang.
6. Membantu Meredakan Perasaan Negatif
Tindakan altruistik juga dapat membantu dalam meringankan perasaan negatif yang terkait saat seseorang saat melihat orang lain dalam kesusahan, sebuah gagasan yang disebut sebagai model bantuan saat dalam keadaan negatif. Pada dasarnya, melihat orang lain dalam kesulitan akan membawa perasaan kesa, tertekan dan tidak nyaman, tetapi membantu mereka mengurangi perasaan negatif ini.
SD artikel lain :



