Beda maksud Mudik dan Pulang Kampung
Sempat tersebut oleh pimpinan negara Indonesia kata mudik dan pulang kampung dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Apa sebenarnya perbedaan mudik dan pulang kampung. Saat ini ramai dibahas mengingat mudik saat ini sudah diperbolehkan oleh pemerintah.
Perbedaan mudik dan pulang kampung, jika diperhatikan dengan baik, bahkan KBBI pun menyatakan istilah “mudik” dan “pulang kampung” itu berbeda. Tidak secara mutlak, hanya saja tidak bisa dinyatakan sama.
Mudik sebenarnya penurunan dari kata udik. Menilik KBBI, udik memiliki tiga pengertian, yaitu sungai yang berada di atas atau hulu sungai; desa, dusun, kampung; dan kurang sopan santun, kampungan, canggung tingkah lakunya.
Dua arti awal adalah kata benda, sedangkan yang terakhir adalah kata sifat. Sifat-sifat kata udik tersebut masih terserap untuk memberi pengertian untuk kata mudik, yaitu pulang ke kampung asal dan berlayar ke udik.
Pulang kampung hanya memiliki satu pengertian, yaitu kembali ke kampung halaman atau mudik.
Simulfiksasi mudik dari udik adalah perbedaan pertama dari dua istilah, mudik dan pulang kampung jika dilihat dari lema dalam kamus dan morfologi atau ilmu pembentukan kata.
Secara budaya, keduanya juga bisa disebut sebagai kembar tapi tak serupa.
Jika dilihat dari kebiasaan masyarakat Indonesia menggunakan istilah mudik, sebenarnya kata ini akan sering muncul ketika menjelang hari besar keagamaan, terutama Idul Fitri.
Sedangkan untuk istilah pulang kampung, bisa dipakai kapan saja untuk menyatakan seseorang yang merantau di luar daerah asal kembali ke kampung halamannya.
Profesor Kutabi, ahli bahasa dan budaya di Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam bahasa tidak ada dua istilah yang memiliki makna sama persis.
Itu berlaku untuk mudik dan pulang kampung. Keduanya memang suatu sinonim, tetapi makna keduanya tidak sama persis, masih memiliki perbedaan.
Menurut Profesor Kutabi, istilah yang maknanya berelasi bisa berubah artinya sebab bahasa adalah suatu hal yang dinamis.
Setiap waktu akan berubah bahkan untuk menggunakan satu kata yang memiliki arti sama.
Sebab, dalam bahasa tidak bisa mengartikan kata atau kalimat secara literal, tetapi juga harus secara konteks keseluruhan.
Artikel Lainnya.



