
CEO Twitter Klaim Elon Musk Tak Akan Masuk Dewan Direksi
CEO Tesla Elon Musk dianggap telah menetapkan untuk tidak bergabung dengan dewan direksi Twitter meski menjadi pemegang saham individu terbesar di platform media umum itu.
Hal itu diungkapkan CEO Twitter Parag Agrawal melalui kicauannya di Minggu (10/4) malam ketika setempat.
“Penunjukan Elon Musk bergabung ke dewan efektif secara resmi dimulai pada Sabtu (9/4), tetapi Elon berkata pada pagi yg sama bahwa beliau tidak akan lagi bergabung dengan dewan,” istilah Agrawal dalam tweet yang dilansir CNN.
“Saya percaya ini yang terbaik. Kami akan selalu menghargai masukan berasal pemegang saham kami meskipun mereka terdapat atau tak pada dewan direksi. Elon artinya pemegang saham terbesar kami serta kami akan permanen terbuka untuk masukannya,” imbuhnya.
Juru bicara Twitter jua mengonformasi keputusan Elon Musk buat tidak masuk di dewan direksi itu sambil merujuk di pernyataan Agrawal.
Dinamika terkait Elon Musk itu terjadi lebih kurang sepekan sehabis Twitter (TWTR) menyampaikan planning buat mengarah bos SpaceX itu menjadi bagian jajaran dewan direksinya sampai 2024.
Baca Juga : Google Search Kini Bisa Pakai Kombinasi Kata dan Gambar
Sebelumnya, Elon Musk sudah membeli 9,2 persen saham pada Twitter sekaligus menjadikannya pemegang saham terbesar perusahaan. sebagai bagian dari kesepakatan pembelian tadi, ia akan masuk serta bergabung menjadi dewan direksi.
Bahkan, Elon Musk jua sudah setuju buat tidak mengakuisisi lebih asal 14,9 % saham perusahaan buat mampu membuatnya masuk menjadi dewan direksi Twitter.
Musk jua berharap buat bekerja menggunakan Agrawal serta dewan Twitter lainnya buat menghasilkan peningkatan signifikan di Twitter pada beberapa bulan mendatang.
Sejauh ini, belum terdapat penerangan lebih lanjut penyebab perubahan keputusan Elon Musk itu. Hanya saja, dalam beberapa pekan terakhir, dia berkicau soal Twitter buat membuka lebar kebebasan beropini dan mendorong algoritmanya sebagai open source.
Elon Musk juga telah melakukan survei kepada pengikutnya pekan kemudian ihwal penggunaan tombol edit, fitur usang yang memecah belah poly pengguna Twitter.
Sejumlah karyawan juga mengaku risau dengan posisinya pada Twitter, terutama terkait kebijakan penindakan tegas terhadap akun-akun provokatif seperti mantan Presiden AS Donald Trump.



