Fungsi SDLC software development life cycle
Fungsi SDLC
Fungsi utama dari penerapan metodologi SDLC adalah memberikan alat bantu bagi manajer proyek demi memastikan keberhasilan implementasi sistem, agar memenuhi tujuan strategis bisnis.
Di samping itu, manajer proyek juga lebih dimudahkan dalam melihat gambaran rancangan, pengembangan, dan progress implementasi untuk memastikan pengiriman tepat waktu dan sesuai dengan budget yang ditentukan.
Melansir dari Michigan Technology University, pendekatan maupun penerapan SDLC untuk pembangunan perangkat lunak memiliki banyak tujuan diantaranya:
- Menjamin sistem kualitas yang sesuai dengan harapan klien ketika pitching beserta estimasi biayanya.
- Memastikan proyek pengembangan dikelola dengan efektif.
- Menyediakan framework demi mengembangkan mutu sistem secara berulang.
- Menetapkan peran anggota tim yang terlibat.
- Mematikan persyaratan pembangunan sistem sudah didefinisikan dengan baik.
- Memberikan arahan dan tinjauan pengembangan sistem tepat waktu.
- Mengidentifikasi risiko kegagalan sejak dini.
Berdasarkan prosedurnya, ada 6 langkah SDLC yang wajib diketahui pengembang software untuk memudahkan proses pemantauan proyek, simak pembahasan di bawah ini.
Tahapan dalam software development life cycle
Pengerjaan sebuah aplikasi atau perangkat lunak terkadang tidak dapat dikerjakan seorang diri, apalagi yang nilainya sangat besar dengan permintaan klien cukup kompleks.
Seorang proyek manajer bisa saja membagi proses pengembangan software dengan beberapa tim. Lalu, membiarkan tiap tim mengerjakan sesuai model life cycle yang dipilih.
Adapun tahapan-tahapan dalam metode SDLC dimulai dari perencanaan, analisis syarat, desain, pembuatan prototype, coding, dan pengujian.
Namun, ada pula yang menambahkan deployment dan maintenance. Setiap fase akan menghasilkan apa yang dibutuhkan oleh tahapan berikutnya. Persyaratan yang sudah dikumpulkan, kemudian diterjemahkan dalam desain. Lalu, disambung dengan produksi sesuai desain di tahap coding, berikut pemaparannya.
1. Perencanaan
Fase di mana proyek manajer menentukan rencana untuk proyek yang akan datang. Ini meliputi menentukan alokasi sumber daya, kapasitas, rencana proyek, estimasi biaya yang dibutuhkan, menetapkan jadwal proyeksi, kebutuhan pengadaan, dan menentukan tim yang ikut terlibat.
Perencanaan SDLC harus jelas agar tiap tim mengetahui apa yang ingin dikerjakan, apa saja harapan klien, ruang lingkup sistem, menangkap masalah yang mungkin menghambat pengembangan.
2. Analisis dan pengumpulan syarat
Tahap berikutnya adalah analisis dan pengumpulan syarat. Fase ini biasa dilakukan oleh senior tim yaitu dengan menerima masukan dari UKM industri dan pemangku kepentingan di proyek pengembangan ini.
Pada tahap ini, Anda sebagai tim yang ikut terlibat mengumpulkan data mengenai syarat dan mengidentifikasi risiko di sistem yang baru.
Misalnya, software seperti apa yang ingin dibangun, siapa yang akan menggunakan perangkat lunak ini, apa saja tujuan produk dikembangkan.
Syarat yang tadi dikumpulkan disimpan di software requirement specification. Sebelum masuk tahap berikutnya, seluruh tim harus memahami tentang produk yang akan dibangun.
Contoh SDLC tahap pengumpulan data yaitu jika klien ingin mengembangkan aplikasi untuk transaksi uang.
Maka persyaratan yang mungkin digunakan adalah operasi apa yang akan dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan dalam mata uang apa yang dipilih untuk transaksi.
3. Desain
Persyaratan yang dikumpulkan di dalam dokumen software requirement specification, kemudian dijadikan input pengembangan sistem yang bisa diimplementasikan dengan bahasa pemrograman.
Anda akan membuat model perangkat lunak berdasarkan syarat yang sudah dikumpulkan tadi. Adapun hal yang harus diperhatikan adalah
- cara software berkomunikasi dengan server pusat atau perangkat lunak lainnya,
- menentukan metode pemecahan masalah di dalam aplikasi,
- memilih dan mengimplementasikan bahasa pemrograman, desain, dan template tertentu,
- bagaimana cara pengguna berinteraksi atau menggunakan software yang dibuat. Ini berkaitan dengan UI,
- bagaimana perangkat lunak yang dikembangkan merespon input yang ada,
- dalam versi apa perangkat dibuat apakah android, iOS, atau Linux,
- proteksi keamanan apa yang dipakai di aplikasi, misalnya kata sandi atau enkripsi SS.
4. Prototyping
Tahap SDLC prototype adalah fase di mana pengembang software melakukan demonstrasi pada pengguna tentang perangkat lunak yang dikembangkan dan diuji.
Tujuannya untuk mendapatkan masukan yang membantu pengembangan lebih baik lagi. Biasanya disajikan dalam model kertas, kerja, dan program.
Apabila setelah dilakukan prototyping banyak masalah atau tidak sesuai dengan harapan, biasanya akan diulang di tahap desain.
5. Coding dan pembangunan software
SDLC adalah proses pengembangan perangkat lunak dari tahap perencanaan hingga pengujian. Setelah menjalankan prototyping, berikutnya adalah coding.
Pengembang menuliskan kode-kode yang sesuai dengan dokumen desain. Selain menulis, developer juga harus memverifikasi apakah kode sumber sudah memenuhi syarat yang dibutuhkan.
Menurut sumber lain, pengembang juga harus aware dan menemukan bugs yang berisiko menyebabkan error, sehingga memakan biaya perbaikan yang tinggi.
6. Pengujian
Pada bagian testing anggota tim yang terlibat mengerjakan proyek harus memastikan software tersebut bisa digunakan dengan baik dan tidak ada bugs.
Selama pengujian, Anda bisa memeriksa dan mencatat kendala yang muncul dan harus diperbaiki. Lalu, melakukan pengujian ulang.
7. Deployment
Metode SDLC yaitu proses pengembangan sistem informasi yang ditujukan dilakukan untuk memecahkan masalah secara efektif. Oleh sebab itu, ada banyak tahapan yang dilalui.
Salah satunya adalah deployment atau penerapan. Setelah lolos pengujian dan tidak ditemukan masalah berikutnya dilakukan penerapan aplikasi.
8. Maintenance
Tahap SDLC melansir dari Binus yang terakhir adalah pemeliharaan. Pengembang harus mulai mempraktikkan langkah yang diperlukan untuk mengatasi kendala yang dikeluhkan klien atau user.
# Lowongan Kerja di Medan
Artikel lain :



