
Instagram Terusik Fenomena Pengguna Repost Konten TikTok ke Reels
Media sosial Instagram meminta penggunanya buat tak mengunggah ulang atau repost konten yang tayang di TikTok ke Reels.
Kepala Instagram Adam Mosseri, pihaknya lebih menghargai kreator yang membentuk konten terpisah buat TikTok dan Reels.
“Jika Anda membentuk konten baru, Anda wajib mendapatkan poly kebanggaan daripada mereka yg hanya membagikannya. Kami berbuat lebih banyak buat mencoba serta menghargai konten orisinil dibandingkan konten yang diposting ulang,” istilah Adam.
Karena itu, Instagram membuat sejumlah perubahan baru buat memastikan kredit diberikan kepada kreator, yg pantas mendapatkannya. Pertama, tag produk tersedia buat semua pengguna, penetapan kategori pengguna, dan promosi konten organik.
Meskipun konten original bukanlah hal yg baru, Adam berkata pihaknya akan condong ke arah konten orisinil yg diproduksi pengguna.
Di samping itu induk perusahaan Meta melihat Facebook dan Instagram serius di pembuat konten, bukan sebagai alat bagi orang buat menghubungkan teman-sahabat pengguna.
Jadi ke 2 platform telah berinvestasi pada jumlah yang besar , serta mengerahkan sejumlah cara agar dapat menggaet penonton dan kreator di fiturnya.
Baca Juga :Hari Bumi 2022, Google Doodle Ungkap Contoh Ngeri Efek Perubahan Iklim
Pihaknya juga diketahui ingin menggaet banyak pengguna beralih ke kedua platform itu, berasal TikToker serta YouTuber sebagai Instagramer serta Facebooker.
Sementara itu, CEO Meta Mark Zuckerberg menyebut video pendek Reels menjadi format konten yg paling cepat berkembang sejauh ini, serta sekarang tersedia pada Facebook dan Instagram.
Namun siapa pun yang menggunakan Reels memahami itu mampu terasa seperti tiruan TikTok, sering menggunakan konten yang sama baru saja diposting ulang dengan logo TikTok.
Menyoal bagaimana Instagram akan memilih mana konten yg disebut orisinil, Adam menilai hal itu sulit buat dilakukan. Adam menilai perubahan itu kemungkinan akan menjadi problem besar bagi akun agregator, yang banyak di antaranya memberikan meme dan postingan tren.
“Ketika kami lebih condong ke rekomendasi, menjadi semakin penting bahwa kami tidak menilai agregator secara berlebihan, karena itu akan buruk bagi pembuat konten,” kata Adam lewat akun Twitternya.
Dorongan buat memproduksi konten asli pada media umum milik Meta bukanlah hal yang baru, dan tidak dipungkiri konten terkenal di Facebook serta Instagram cenderung dijiplak.
Platform Meta memiliki audiens terbesar, namun TikTok, Twitter serta lainnya cenderung menjadi daerah meme serta tren baru dikutip The Verge.
Untuk menyikapi kondisi ini, Bila Instagram dan Facebook ingin sebagai platform yang sukses mewadahi konten kreator, mereka wajib menemukan cara buat membaliknya.



