Klinik Tanaman merupakan kombinasi dari metode tradisional
Klinik Tanaman merupakan kombinasi dari metode tradisional “Klinik”, yang dikembangkan di Jerman, dan teknik Gotong royong atau Yai Bisa yang dipopulerkan. Metode pertama mengharuskan siswa untuk membuat gerakan melingkar dengan lengan, sedangkan yang kedua siswa memutar lengan, telapak tangan menghadap ke bawah. Teknik ini kemudian dipasangkan dengan sit-stay (pernapasan perut) dan kapha (napas). Duduk-tinggal melibatkan siswa mengendurkan seluruh tubuhnya. Setelah ini selesai, siswa kemudian dapat menggerakkan kakinya, dan inilah yang disebut dengan gotong royong.
Klinik Tanaman memiliki keterkaitan yang kuat dengan praktik Hatha Yoga. Banyak teknik yang diajarkannya secara langsung atau tidak langsung berasal dari rangkaian yoga Ashtanga dan Viniyoga. Beberapa ciri Klinik tanaman yang paling umum antara lain: pengulangan nafas (bhogri), gerakan lambat dengan lengan, dan penggunaan kepala sebagai penopang batang tubuh. Beberapa pose di Klinik Tanaman bahkan bisa dilakukan hanya dengan menggunakan kepala.
Klinik Tanaman tidak hanya berguna untuk mengencangkan otot perut, tetapi juga sebagai alat pelindung diri dari panas. Penting untuk dicatat bahwa Klinik Tanaman berbeda dari sarung tinju khas Thailand, karena tujuan Klinik adalah untuk melindungi praktisi dari pukulan di kepala. Beberapa praktisi merasa berguna untuk menggabungkan Klinik dengan beberapa seni bela diri lain seperti Muay Thai, karena kombinasi ini memungkinkan seorang praktisi untuk mempertahankan kepalanya jika terjadi konfrontasi. Penerapan teknik Klinik dalam hubungannya dengan seni bela diri lain seperti tinju Thailand mungkin merupakan salah satu metode pertahanan diri yang paling efektif yang tersedia.
artikel lainnya.
https://kepegawaian.uma.ac.id/sosialisasi-sertifikasi-pendidik-untuk-dosen-tahun-2021/



