
Kolaborasi Dosen UMA: Dorong UMKM Kembangkan Kerupuk Lipat
Dosen dari Program Studi Teknik Industri Universitas Medan Area (UMA) mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memproduksi kerupuk lipat di Desa Sentis, Kecamatan Percut Sei Tuan. Mereka melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan membimbing pelaku usaha agar meningkatkan kualitas produk.
Tim pengabdian UMA menemukan bahwa tingkat kerusakan mutu kerupuk mencapai 21% setiap bulan, sehingga pendapatan pengusaha menurun. Untuk mengatasi permasalahan ini, tim memberikan penyuluhan dan menerapkan metode Taguchi guna memperbaiki kualitas produk. Haniza, ketua tim pengabdian, menjelaskan bahwa metode ini meningkatkan penjualan serta mengurangi jumlah produk yang rusak. Selain Haniza, tim ini terdiri dari para dosen, yaitu Nukhe Andri Silviana, Nos Sutrisno, Sirmas Munte, dan Lorena Nainggolan.
Melalui eksperimen, tim meningkatkan kualitas kerupuk dengan menerapkan tiga tahapan utama. Tim menjalankan proses pengeringan selama 7 jam (A1), pemanggangan optimal selama 13 menit (B1), dan penggorengan ideal selama 2 menit (C2) untuk meningkatkan rasa, daya tahan, dan kerenyahan produk.
Eksperimen tersebut menghasilkan kualitas kerupuk yang lebih baik sesuai dengan preferensi konsumen, sehingga angka penjualan meningkat. Haniza juga mengungkapkan bahwa meskipun banyak orang menggemari kerupuk, konsumen sering mengeluhkan penurunan kualitasnya. Akibatnya, produsen menerima banyak pengembalian produk.
Konsumen sering mengeluhkan rasa, daya tahan, dan kerenyahan, dengan angka pengaduan mencapai hampir 21% setiap bulan. Secara rinci, mereka menyampaikan 858 keluhan terkait rasa, 800 keluhan mengenai daya tahan, dan 786 keluhan tentang kerenyahan. Oleh karena itu, perusahaan harus berinovasi dalam proses produksi kerupuk lipat agar mengatasi permasalahan tersebut. Berikut ini adalah persentase berbagai keluhan konsumen terhadap kualitas produk serta jumlah kerupuk yang tidak layak konsumsi dan harus dibuang.



