Teori-Teori Altruisme
Teori Altruisme
Berikut ini adalah berbagai teori mengapa seseorang melakukan altruisme:
1. Teori Evolusi
Dahulu kala, ketika seleksi alam masih sangat kuat, tiap spesies kemudian melakukan berbagai cara untuk dapat bertahan hidup serta mempertahankan garis keturunannya. Terdapat salah satu cara yang mereka lakukan diantaranya dengan saling menolong diantara para anggota keluarganya. Seiring dengan adanya evolusi, mekanisme pertahanan ini tersisa dalam diri manusia dalam bentuk altruisme.
2. Teori Lingkungan
Sebuah studi juga menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan baik dalam suatu lingkungan memiliki pengaruh besar dalam mendorong tindakan altruisme pada orang-orang di lingkungan tersebut. Misalnya pada anak yang orang tuanya memberi contoh sikap altruisme dalam lingkungan rumah kemungkinan besar akan menjadi altruis di kehidupannya, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.
3. Teori Norma Sosial
Orang-orang tentunya akan lebih tertarik dalam bekerja sama dengan orang yang suka menolong. Pada sisi lainnya, sikap ini juga akan membuka utang budi. Jadi, suatu saat ketika seorang altruis membutuhkan pertolongan, orang lain tidak akan segan dalam membantu seseorang.
4. Teori Penghargaan
Altruisme sendiri kemudian akan menghasilkan imbalan atau penghargaan. Namun, di alam bawah sadar, ada imbalan berbentuk rasa bahagia dan puas terhadap diri sendiri yang kemudian muncul setelah berbuat kebaikan. Perasaan seperti ini kemudian akan membuat seseorang mau melakukan sikap altruisme. Selain yang telah disebut di atas, masih terdapat beberapa teori di balik mengapa seseorang mau melakukan altruisme. Sebuah teori mengatakan altruisme dapat melepaskan perasaan negatif dan stres dalam diri seseorang, karena ia jadi dapat membuat seseorang merasa bersyukur saat melihat ada orang yang lebih kesulitan dari darinya. Altruisme kemudian sering dihubungkan dengan rasa empati. Seseorang kemudian akan lebih terdorong untuk melakukan altruisme jika melalui kemampuan berempatinya kuat. Rasa empati pada anak kecil yang bau berkembang pesat di usia 2 tahun ke atas. Hal ini sebabnya sebabnya anak usia di bawah 2 tahun masih sering bersikap posesif dan tidak mau berbagi.
SD artikel lain :



