
Dampak Salju di Puncak Jayawijaya Papua Meleleh
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap dampak yang akan terjadi Bila salju abadi di zenit Gunung Jayawijaya, Papua, meleleh dan punah.
Donaldi Permana, ketua Bidang Litbang Klimatologi BMKG menyebutkan akibat pertama yang akan terjadi artinya Indonesia kehilangan wisata salju puncak Jayawijaya sebagai karakter atau ciri spesial Papua.
“Dampak yg didapatkan pada antaranya Indonesia akan kehilangan ikon es abadi di (kawasan) tropis,” istilah Donaldi melalui pesan singkat, Rabu (23/3).
Lalu kondisi ini pula berdampak pada peningkatan tinggi muka laut (sea level rise), meski diakui tidak signifikan karena luas es tidak terlalu besar .
Dampak lain, beliau mengatakan berasal segi budaya sebab pada kurang lebih puncak Jaya terdapat suku yg menganggap es puncak Jaya sebagai tempat sakral.
“Dengan hilangnya es, akan berdampak terhadap suku lokal tadi. dampak lainnya yang mungkin adalah terhadap kehidupan flora dan fauna di kurang lebih es zenit Jaya. namun, hal ini masih belum dieksplorasi lebih jauh,” kata beliau.
Baca Juga : Facebook dan Instagram Disebut Ekstrimis, Dilarang Beroperasi di Rusia
Secara umum , pencairan es pada global terjadi mulai 1850 ketika awal revolusi Industri. saat itu, luas es di zenit Jaya diestimasi sekitar 20 km2. kemudian dalam 20 tahun terakhir, luas es puncak Jaya terus menipis sebagai 2 km2 di 2002, 1,8 km2 di 2005; 0,6 km2 di 2015, 0,46 km2 di Maret 2018, serta 0,34 km2 di Mei 2020.
Di sisi lain, pengukuran pertama tebal es dilakukan oleh tim BMKG berafiliasi dengan The Ohio State University (USA) di 2010 dengan tebal es 32 meter.
Lalu 27 meter di 2015, 22 meter di 2016 (dikarenakan EL Nino kuat), serta 8 meter pada 2021. dengan kondisi seperti ini, pada tahun 2025-2027, kemungkinan es pada puncak gunung itu akan punah.
Penyebab
Faktor pemanasan dunia adalah faktor awal serta primer dalam penyusutan es pada Papua. tapi, akibat lanjutan asal pencairan es Papua juga mempercepat laju penyusutan, diantaranya karena suhu meningkat, maka hujan yang dulunya turun sebagai salju di zenit es, kini turun berupa air hujan serta mengikis es.
Kedua, semakin mencairnya es membentuk batuan di kurang lebih es semakin luas serta berwarna gelap. permukaan batuan ini kemudian menyerap panas lebih poly sebagai akibatnya mencairkan es dari bagian samping serta bawah.



