
Facebook dan Instagram Disebut Ekstrimis, Dilarang Beroperasi di Rusia
Hakim pada Pengadilan Tverskoy Moskow telah memutuskan buat melarang anak perusahaan Meta yaitu Facebook dan Instagram beroperasi pada Rusia karena terlibat dugaan ‘kegiatan ekstremis’. Hal ini bermula asal apa yang dilaporkan sang media milik negara Rusia, TASS.
Hakim Olga Solopova mengatakan pengadilan sudah memutuskan untuk mengabulkan gugatan kantor Kejaksaan Agung Rusia.
Keputusan ini memungkinkan Meta tidak bisa beroperasi dan melakukan bisnis atau membuka cabang baru di Rusia, dan keputusan ini akan segera berlaku.
“Itu tidak termasuk WhatsApp,” pungkasnya mengutip The Verge, Selasa (22/tiga).
Pekan kemudian, Facebook dan Instagram menguraikan kebijakan moderasi yg memungkinkan pengguna di Ukraina dan negara-negara Eropa Timur lainnya buat menyerukan kekerasan terhadap tentara Rusia.
Platform awalnya berkata pada moderator mengizinkan posting menggunakan seruan kematian Presiden Rusia Vladimir Putin serta Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.
Baca Juga : Daftar Kerugian dari Pelanggaran Data
Tetapi kemudian mereka mempersempit kebijakannya dengan panduan yg secara eksplisit melarang seruan untuk melakukan kekerasan terhadap rakyat Rusia atau kepala negara mana pun, berdasarkan Reuters.
“Kami percaya operasi perusahaan tunduk di larangan sehubungan menggunakan keterlibatannya dalam aktivitas ekstremis,” istilah seseorang pejabat regulator komunikasi Rusia Roskomnadzor selama persidangan, dari sebuah laporan oleh Interfax.
Kantor kerja kejaksaan Rusia lantas meminta kebijakan larangan tadi, bersama menggunakan Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB).
TASS mengutip seseorang perwira FSB yg berargumen “kegiatan Meta ditujukan buat melawan Rusia dan angkatan bersenjatanya. Kami bersikeras bahwa aktivitas Meta wajib segera dilarang.”
TASS juga menjamin perwakilan kejaksaan menyebut penggunaan Facebook dan Instagram tidak akan menghasilkan individu bertanggung jawab ketika berpartisipasi pada ekstremisme.
Sementara TASS jua mengutip pembela terdakwa resmi yg berkata membeli iklan pada layanan tadi dapat dilihat sebagai pendana ekstremisme.



